Malam kian larut, sedang gerimis belum menunjukkan tanda akan reda. Di suatu tempat yang gelap, lembab dengan bau menyengat … ada sepasang sepatu yang tergeletak di salah satu sudut tempat gelap itu. Sepatu flat yang terbuat dari bahan karet dengan warna coklatnya yang telah pudar, sepatu yang sudah usang … tapi … taukah kamu … sepatu usang itu menyimpan sebuah cerita … inilah kisahnya … sepatu mungil yang bernama Twikkie.
Di tempat gelap itu, Twikkie hanya bisa menangis … tubuhnya gemetar karena dingin dan takut, karena sebelumnya dia tidak pernah berada di tempat yang begitu gelap dan bau. Twikkie sangat bingung bagaimana bisa dia sampai di tempat seperti ini, kemana nona pemiliknya yang selama ini selalu merawatnya dan membersihkannya saat dia terkena debu atau lumpur. Dalam ketakutannya Twikkie mendengar sebuah suara…
“Siapa disitu…?” Tanya suara itu
Twikkie hanya diam, dia terlalu takut untuk menjawab suara itu
“Kamu siapa? kenapa menangis?” Tanya suara itu lagi
“Twikkie…”
“Hah … Twikkie … apa itu … ah iya perkenalkan aku lilin, maaf aku tidak bisa melihatmu, tempat ini gelap, tapi Twikkie bisa dengar suaraku kan?” kata benda yang ternyata adalah sebuah lilin itu.
“Uuummm … Twikkie itu namaku, … aku ini sepatu.”
“hahaha … Ooo.. kamu sepatu yah … wah punya nama … mm kalau namaku … mmm yah namaku lilin hihihi..salam kenal.”
“Kenapa tertawa, apanya yang lucu … itu nama pemberian nona ku.” Jawab Twikkie dengan sedikit kesal.
“Wah marah ya … maaf … o ya Twikkie … apa yang kamu lakukan di tempat sampah ini?”
“Hah … apa katamu .. tempat sampah … jadi aku ada di tempat sampah … itu tidak mungkin … kemana nona ku … dia pasti bingung mencariku.” protes Twikkie
“Twikkie, kita berdua memang ada di tempat sampah.”
“Itu tidak mungkin … nona sangat menyayangiku … tidak mungkin aku di buang ke tempat sampah … ini pasti ada yang salah!”
“hmm… mungkin Twikkie sudah rusak makanya nona mu membuangmu.” lilin itu berusaha memberi penjelasan
“Aku tidak rusak! .. aku masih bisa melindungi kaki nona dari batu dan kerikil yang bisa melukai kakinya.”
“Yah kalau begitu … mungkin nona mu sudah punya sepatu yang lain.”
Mendengar kata-kata lilin barusan Twikkie hanya terdiam … dia tidak mampu menjawab pertanyaan yang dalam hatinya dia tau itu benar. Masih jelas dalam ingatan Twikkie, saat nona nya mulai mengacuhkannya. Ya … saat nona kesayangannya itu patah hati. Seorang pria telah meninggalkan nona nya demi seorang wanita yang lebih cantik, lebih dewasa dan anggun, dan pria itu membuat nona nya menangis. Sejak saat itu Nona mulai berubah, nona mulai berhenti memakai Twikkie dan mulai memakai sepatu high heels yang memang terlihat sangat cantik di kakinya. Bukan hanya itu, saat nona memakai sepatu cantik itu, semua orangpun memujinya … hal yang tidak pernah di dengar oleh Twikkie saat nona memakai Twikkie di kakinya.
“Ummm .. lilin .. boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Twikkie
“Boleh … Twikkie boleh tanya apa saja kok?” Jawab lilin
“Lilin … apa kamu pernah merasa kadang manusia itu tidak adil … lihat dirimu … saat listrik padam … semua orang membutuhkanmu … dan dengan segala upayamu … kamu berusaha menerangi mereka … tapi saat listrik kembali nyala … mereka langsung berpaling pada cahaya yang lebih terang dan indah … dan kemudian kamu dibuang begitu saja … Apa kamu tidak marah … tidak sedih?” Tanya Twikkie dengan lirih.
Sesaat lilin terdiam … kemudian lilin tersenyum dan berkata
“Aku tidak marah … kalau sedih … iya … sedikit tapi aku sadar … dengan semua keterbatasanku ini … aku tidak bisa memaksa manusia untuk lebih memilihku daripada lampu yang lebih terang dan indah itu … kalaupun sekarang aku dibuang begitu saja … aku bisa menerima, setidaknya aku sudah senang bisa menerangi manusia dalam gelap meski hanya sesaat … aku bersyukur bahwa dalam hidupku yang singkat ini aku bisa membahagiakan seseorang.”
Twikkie terdiam kemudian kembali terisak mendengar kata-kata lilin … dalam hati Twikkie dia masih belum bisa menerima kata-kata lilin.
“Tapi nona bilang aku sepatu yang nyaman … dan masih bisa melindungi kaki nona dari panas, kerikil dan jalan yang becek … kenapa sekarang aku harus dibuang …” kata Twikkie lirih hampir tak terdengar teredam oleh isak tangisnya.
Belum reda tangis Twikkie … tiba-tiba ada suatu benda yang terbuat dari besi sedang mengorek isi tempat sampah itu dan besi itu kemudian mengambil Twikkie …
“Liliiinn .. tolong aku … ada orang yang menculikku!!!” Teriak Twikkie pada lilin.
“Tenang Twikkie … tidak perlu takut, dia hanya seorang pemulung … siapa tau Twikkie bisa punya pemilik baru” Teriak lilin pada Twikkie yang sudah tak terlihat lagi karena pemulung itu sudah memungutnya dan memasukkannya ke dalam karung.
Entah sudah berapa lama Twikkie terayun-ayun di dalam karung yang sempit itu, berdesakan dengan benda-benda lain. Twikkie selalu menyebut nama nona nya dan selalu berharap … nona akan mencarinya karena dia masih percaya akan kenangannya berdua dengan nona … kenangan saat nona begitu menyayanginya dan merawatnya … kenangan yang selalu membuatnya yakin bahwa nona masih begitu sayang dan pasti akan mencarinya. Twikkie merasa tubuhnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain … sampai akhirnya Twikkie merasa dia berhenti di suatu tempat. Dia melihat sekelilingnya … tempat itu penuh dengan sepatu sepertinya, sepatu usang. Dan Twikkie melihat diantara sepatu itu ada sepasang sepatu yang terlihat begitu menakutkan, sepatu butut dengan jahitan disana sini. Sepatu yang menakutkan itu melihat ke arah Twikkie, dan Twikkie buru-buru memalingkan muka, dia terlalu takut.
“Mungil … kenapa menangis?” tanya sepatu menakutkan itu.
Twikkie hanya diam, dia masih belum berani melihat ke arah sepatu menakutkan itu
“Kamu takut ya liat wajahku … ya sudah ndak papa … tapi ndak usah nangis … semuanya akan baik-baik saja kok … sabar ya.”
Tiba-tiba rasa takut itu menghilang, Twikkie menjadi tenang mendengar kata-kata sepatu itu …
“Uummm … bibi sepatu … kita ada dimana?” Tanya Twikkie
“Bibi juga ndak tau kita ada dimana … tapi sepertinya semua sepatu yang sudah ndak kepake ngumpul disini … lha nak mungil ini kok bisa ada disini, kan masih bagus.”
“Nama saya Twikkie … Twikkie sudah jelek kok makanya Twikkie dibuang, nona pemilik Twikkie sudah punya sepatu baru, sepatu yang cantik.”
“Wah-wah sudah … ndak usah nangis lagi … cep cep cep … Twikkie masih bagus kok, kalo saja bibi masih sebagus Twikkie pasti ibuk yang memakai bibi ndak bakal susah.,, bibi pasti masih laku kalau dijual … trus uangnya buat beli beras” Bibi sepatu yang menyeramkan itu mulai bercerita dengan kata-katanya yang ternyata tidak menyeramkan seperti wajahnya.
“Ibuk yang memakai bibi, bekerja sebagai pemulung, tiap hari bibi nemani ibuk jalan di tempat-tempat pembuangan sampah, jangankan untuk beli sepatu bagus … buat makan saja susah … makanya kalau bibi rusak … sama ibuk ya paling bibi cuma dijahit atau ditambal makanya wajah bibi jadi seperti ini.” Cerita bibi sepatu itu.
“Tapi sekarang kenapa bibi ada disini … ibu itu sudah punya uang ya buat beli sepatu baru.” Tanya Twikkie
Sejenak bibi sepatu itu terdiam, wajahnya menampakkan kesedihan yang begitu mendalam.
“Ibuk sudah ndak ada …ibuk digilas oleh truk sampah yang ndak tau kalau di belakangnya ada seorang ibu yang mencari nafkah untuk memberi makan 5 orang anaknya dan suaminya yang sedang sakit.”
Lama mereka terdiam … merenungi nasib masing-masing, sampai tiba-tiba terdengar suara mesin yang menderu, dan tempat yang semula diam itupun mulai bergerak.
“Bibi … kenapa tempat kita bergerak, kita mau kemana?” Tanya Twikkie yang mulai panik
Bibi sepatupun melihat sekelilingya, mencoba melihat apa yang terjadi, dan pemandangan yang terlihat adalah sepatu-sepatu yang ada di depan mereka mulai digilas oleh mesin penghancur, Bibi sepatupun hanya menghela nafas dan mulai memikirkan kata-kata yang harus disampaikan ke Twikkie yang mulai panik dan mulai menangis …
“Twikkie … apapun yang kamu alami … berhenti meratapi nasib dan mulai bersyukur karena sebenarnya banyak orang yang lebih tidak beruntung.”
“Kenapa bibi tiba-tiba berkata seperti itu … ada apa?”
“Sebentar lagi kita akan dilebur oleh mesin penghancur ini.”
“Apa!! .. dilebur … maksud bibi kita akan dihancurkan ... tidak!! aku tidak mau … bibi bagaimana cara lari dari sini … aku harus pergi … nona pasti mencariku … nona pasti akan mencariku!! Kata Twikkie yang mulai histeris.
“Twikkie!! … tenanglah … ndak ada yang bisa kita lakukan.” Bibi sepatu itu sedikit meninggikan suaranya untuk menenangkan Twikkie.
“Tapi Twikkie ga mau dihancurkan .. Twikkie masih ingin ketemu dengan nona .. nona pasti sedih kalau Twikkie tidak ada!!
“Apa Twikkie lupa … bagaimana Twikkie bisa sampai disini … siapa yang membuang Twikkie.” Kata bibi sepatu.
Mendengar kata-kata bibi sepatu itu tangis Twikkie semakin menjadi-jadi, dan bibi sepatu mencoba menenangkan sepatu mungil itu.
“Ada saat-saat indah yang yang harus diikhlaskan dan ada saat-saat pahit yang harus dijalani, itu namanya hidup nduk, ndak ada yang bisa kita lakukan untuk melawannya kecuali pasrah dan berdoa sama Gusti Allah … kalau memang Twikkie sayang sama nona, tugas Twikkie sekarang hanya berdoa … semoga nona bahagia dengan sepatu barunya.” Bibi sepatu menasehati Twikkie dengan lembut.
Twikkie pun berhenti histeris dan mulai berhenti menangis … bukan karena dia tidak lagi sedih tapi karena dia tau .. bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan untuk bisa kembali bertemu dengan nona pemiliknya, kemudian Twikkie melihat bibi sepatu mulai digilas oleh mein penghancur dan Twikkiepun sadar sebentar lagi tiba gilirannya. Twikkie kembali mengingat saat pertama dia bertemu dengan nona sampai saat terakhir dia melihat nona nya itu, ingatan itu masih begitu jelas dan indahnya masih begitu terasa … kemudian Twikkiepun hanya bisa berdoa.
“Tuhan … kumohon agar sepatu baru itu bisa melindungi kaki nona dan aku juga memohon berikanlah nona ku seorang pria yang bisa melindungi hatinya.” Tak seberapa lama, tubuh Twikkie pun ikut melebur bersama sepatu usang lainnya … dan kisahnya pun berakhir disini.
